Dalam menghadapi ekstremisme agama di dalam komunitas, pemimpin agama dapat memilih untuk berfokus pada faktor berbasis komunitas (misalnya, menyoroti kurangnya kecaman terhadap ekstremisme dalam komunitas, kegagalan menangani kesalahan interpretasi terhadap teks agama, atau kurangnya upaya untuk mempromosikan toleransi dan pemahaman di antara para pengikut), atau pada keadaan individu (misalnya, menyoroti faktor seperti kemiskinan, trauma akibat perang, atau masalah kesehatan mental yang memengaruhi individu tertentu yang terlibat dalam serangan).